Posts

Showing posts with the label Poetry

Ke Kuburan

Image
  Foto: Google Aku masih ingat betul menjelang Asar langit mendung   Di beranda ramai pelayat Di dalam keranda jasad terbaring bersedekap Dan lelaki itu sudah sejak awan Bersedu sedan  Hampir pingsan   Kiai melayangkan doa-doa Santri-santri dan keluarga Mengamini Dan dengan bacaan Tahlil Ditaburkan bunga-bunga di jalan tempat lewat iring-iringan   Di kuburan Liang sudah selesai disiapkan   Rintik air turun bersama tubuh berkain kafan   Aku turut menurunkan tubuh Dengan pelan Dengan gemetar suara azan di bibir dan kerongkongan   Dengan kedua tangan kututupi dengan tanah tubuh itu: Tubuh ibuku   ربي لاتحرم أمي من الجنة فهي لم تحرمني شيئا في الدنيا Jakarta, 8 September 2020 4:30 WIB

Di Kasur

Image
Credit: Unsplash              -  untuk FNF pulang kerja seperti biasa lelaki itu menggembol tas yang kata kawannya berisi bola meriam   direbahkan pegal di punggung nyeri di pinggul dan hangat di tengkuknya itu   di atas kasur tubuh tergolek berdarah-darah tercabik-cabik gagak-gagak   seorang bocah menatap dengan mata sejatinya menggusah dengan tangan mungilnya   “Hush, hush, hush …”   gagak beterbangan bersama doa-doa   lelaki itu terperanjat: memeluk tubuhnya erat Jakarta, 13/08/2020

Sebelum Mati

Image
  Credit: Unsplash laa diangkat ke atas ilaa diayun ke kanan ha diputar ke kiri illAllah dibanting ke hati   berkali-kali berkali-kali berkali-kali   sampai si lelaki sadarkan diri   Jakarta, 13/08/2020

Menggunting Kuku II

Image
Credit: Unsplash   usai subuh   Yaa Allah aku ingat ini jumat   oh, ibu ini bukan sabtu aku bisa menggunting kuku   maaf, bu   aku sering lupa ibu ada   Jakarta, 17/04/2020 (h-2 tiga tahun ibuku)

Menggunting Kuku

Image
Credit: Freepik bangun tidur subuh tiba-tiba saja aku ingin menggunting kuku   hari itu, sabtu   dan, aku ingat ibuku: jangan gunting kuku di hari ... ah, aku lupa betul-betul lupa   maaf, bu   aku sering lupa aku mau tanya oya, aku lupa ibuku sudah tiada   Jakarta, 17/04/2020

Sepulang Kerja

Image
Credit: Unsplash Pulang kerja ia bawa segembol pegal di punggung, hangat di tengkuk. Ia lempar-hempaskan badan di ranjang, sembari mata menatap film aksi di televisi dan ponsel memutar lagu anyar Coldplay. Sekadar bunyi, katanya;  asal tidak sepi. Tangannya meraih buku sembarang. Buku yang tak kunjung selesai berbulan-bulan. Usai beri kabar ke pacar, ia hirup buku itu. Tiba-tiba, ia merasa harus mencari sesuatu. Ia matikan TV, menengok ke dalam dadanya: Ada anak kecil menunduk. Memeluk kedua lututnya. Ketika kutatap, ia menatap balik. Matanya nyala. Mata yang sejati itu. Biru. Lelaki itu sadar, ia sudah lama di pasar.  Dan sudah lama tidak ke kub uran. Ah, barangkali di kuburan itu ia bisa melihat dirinya sudah mati! Jakarta, 5 Februari 2020. 00:21

Ingatan dari Pantai Trikora

Image
Pantai Trikora, di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Foto:  http://www.tanjungpinangpos.co.id Hey lihat, di pantai Trikora yang biru dan tenang itu, seorang bocah berlari telanjang kaki menuju bibir pantai, hampiri ombak kecil sentuh kaki mungil. Bocah itu berlari-lari dan tertawa-tawa. Lihatlah matanya. Begitu sejati. Ibunya di kejauhan. Bocah itu memanggil-manggil kakaknya. Mereka asyik berdua. Ibunya masih di kejauhan. Waktu berlalu dan kenangan tertancap di kepala. Bocah itu kini sudah mengerti. Dan kakaknya sudah jadi lelaki. Malam tadi, bocah itu bercerita akan pergi ke pantai. Bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Ia akan pergi. Sedangkan kakaknya di kota, dan bapaknya mesti kerja. “Aa, bisa nggak nanti nemenin ke pantai? Aa, tolong. Please!” Lewat telepon bapaknya, bocah itu menghubungi kakaknya. “Oh iya, ayo, Dek. Aa nanti pulang.” “Aa beneran mau nemenin?” “Siap, Dek.” “Kalo ada Mama, mesti Mama yang nemenin.” ...

Ketika Waktu Merayu

kini hanya ada kau dan diriku dalam suatu jamuan purba para pertapa ya, lagi-lagi aku musti menyantap wajahku dalam dirimu aku tahu, aku takkan mampu mengelak rayuanmu yang manis dan bengis itu Bogor, Februari 2013

Tuhan, Itu Saja!

aku tidak akan minta yang lain-lain meski di kepalaku banyak kata oh tuhan, bahkan saat ini aku tak berselera menghirup surga tuhan, sudah lama tintaku kering kau tahu ‘kan? aku hanya mau tinta akan kucelupkan pena kuguratkan doa pada kertas lusuh yang kupunya itu saja Purwokerto, 21 September 2013

Tersedak

malam itu aku dibungkam gelap. rembulan dan gemintang rupanya telah lenyap terbawa arus darah yang meluap, tak menghiraukan dada. aku ikut hanyut dan tersedak hari kemarin. Purwokerto, 2013

Sia-sia

aku masih melantur, ketika bulan sudah tunduk pada fajar. aku melihat diriku komat-kamit, merapal segala mantra, dan tubuhku bergerak-gerak sendiri. aku melihat kesia-siaan. lidahku tampak lentur, namun ajianku takkan pernah sempurna jika kepalaku telah dicuri rencana-rencana. Purwokerto, 19 November 2013

Semoga Malaikat Tak Bersuara

malam itu aku mendapat undangan dari seorang lelaki. ketika hendak pergi, aku diikuti gerobak pengangkut kesialan. tentu malaikat tahu, gerobak itu milikku. dan hantu-hantu selalu saja cekikikan, teriakkan: hore! mampus kau! entah, lelaki itu hafal atau tidak, apa yang kubawa? boleh jadi ia mengira bukan sebagai gerobak, melainkan satu truk penuh kesialan. aku hanya menunduk kikuk dan berharap: semoga saja kacamatanya tidak dipakai untuk mengira-ngira. ; semoga malaikat tidak terlalu terbuka untuk berkata-kata. Purwokerto, 2013

Saat Inilah Engkau!

saat inilah engkau ketika kicau burung tak lagi ramah saat inilah engkau ketika warna bunga tak lagi cerah ketika bulan tak singgahi malam saat inilah engkau ketika satu bintang pun tak nampakkan saat inilah engkau hei rembulan, gemintang munculkan rupamu! siapa nyana, cahaya menusuk kalbu Purwokerto, 28 Maret 2013

Proses Merayu Tuhan

seperti biasa, tiga malam terakhir ini, sebelum mimpi-mimpi menarik tanganku, wangi telaga telah mengajakku bermain dadu. kasur, bantal, dan guling mendorongku untuk berjaga dalam permainan petak umpet. jendela kamar menyuruhku membeli buku tts di warung depan kampus, samping masjid. aku beranjak dan menuruti permintaan mereka. sekadar meyakinkan, aku bertanya, “baiklah, ini semua untuk esok ‘kan?”. mereka tersenyum lantas mengangguk. setelah habis keringat dan begitu yakin kemudian aku pergi mandi, berpakaian mewah dan memakai penutup kepala, biar sopan. tak lupa lidahku kuolesi dengan minyak wangi non-alkohol. malam ini penampilanku sangat rapi. sebelum berangkat ke malam jum’at, penghuni kamarku berpesan: kau harus merayu dan terus merayu agar semua bisa dimenangkan. lewat telepon rumah aku merayu tuhan, bicara dan bercerita dengan bahasa dan nada yang amat indah. aku berdansa bersama mantra dari sejarah. aku terus merayu dengan kalimat-kalimat dan gerak tubuh yang paling ...

Anak Adam Hanya Mencoba

Tuhan Maha Rahman Beribu ampun aku ucapkan Aku benar titikkan Aku sungguh gumamkan Aku kalap, akulah si mukalaf Aku banyak tertawa dan lupa Padahal hidung, mata, telinga Tangan, kaki, jari-jari Yang bakal berkata nantinya Kepala dan kelamin pasti menyumpahi Mulut? Takkan mampu bersaut Noda, noda, noda Terus saja terpelihara Oh, manusia hanya mampu bertanya-tanya: “Bagaimana?” Dan terus berbicara: “Siksa-Mu teramat pedih Sampai sulit tuk mengartikan pedih peri Kami tak pantas bahagia Tapi kami tak mau dirundung nestapa.” Oh, Tuhan Maha Kuasa Anak Adam hanya mencoba Purwokerto, 2/03/2013

Perempuan yang Melata

di jalan menuju sei jang, aku bertemu seorang wanita. ia seperti menutup mata dan telinga pada realita. aku terpana. aku kira detak jantungnya adalah gema gua. aku sapa, dia pergi melata. Tanjungpinang, 2013

Pekerjaan Mencari Waktu

aku membuka-buka lembaran waktu sembari terus menghardik diriku: jangan ada yang terlupa! aku sibuk mencari-cari waktu di punggungku. pekerjaan itu kulakukan ketika hari kamis telah habis; ketika kutemukan jernih kata di dada. bah, dasar manusia! selalu saja dapat kata ketika ada maunya; ketika ia ingin genggam satu malam tuk bayar utang 83 tiga tahun 4 bulan, agar kelak ia tenteram. Tanjungpinang, 2013

Muntahan Waktu

Sampai pukul 07.08 pagi, mimpi masih belum mengetuk pintu kamarku. Padahal jendela kubiarkan terbuka agar ia leluasa. Bahkan mengintip pun tidak. Baiklah, akan kuciptakan sendiri bayangan. Dengan kabel hitam kecil yang dialiri listrik, suara-suara mulai menembus masuk telinga, dan kepalaku siap untuk mememahat bentuk-bentuknya. Ah, wajahmu saja wangi daun jeruk nipis. Kepalamu masih dari terigu, telur, gula, dengan banyak air. Dan kau yakin, kau dan orang-orang merasakan aroma dan manisnya. Sehingga jam dinding itu takkan diam membiarkanmu: jam dinding itu selalu saja menjumuti bagian kepala, wajah, dan tubuhmu. Menguyah lalu melahapnya, namun terkadang memuntahkannya menjadi diriku. Kota Gurindam, Juli 2013

Menunggu Kereta

Kemarin, aku ingin sekali pergi. Rasa-rasanya aku telah berkemas, meski masih harap-harap cemas, karena tiket yang kubeli transparan. Keamanan di sana, kata guru ngajiku merupakan keamanan yang paling ketat di antara semua yang paling ketat. Aku takut petugas mengira aku berbohong, dan aku juga tak tahu apa benar diriku berbohong, karena kebenaran pun masih jauh di ujung. Sekarang, aku sudah perlente dan siap untuk pergi. Di peron, setiap semuanya datang dan pergi, aku mendengarkan nyanyian-nyanyian yang mengajakku bermain di punggung waktu. Ah, aku tak jadi pulang. Kereta tak kunjung datang. Kota Gurindam, 2013

Menangis, Meronta

ayolah, tak usah berpura-pura kau cukup bersandar saja di pundak malam mengadu pada ramah angin mulailah bercerita dan jika kau merasa lega aku sarankan kau terus menangis kau pun perlu meronta biar deras itu kata biar merah itu dada Purwokerto, September 2013