Posts

Showing posts with the label Short Story

Bukan Membanding-bandingkan*

Image
Kumpulan cerpen Pak Kayam (kiri) dan Kumpulan cerpen Paman Yusi (kanan) Bukan, bukan membanding-bandingkan. Hanya saja ini perkara selera. Lha gimana, wong itu yang sa rasa. Dan ini sekadar pembacaan orang awam saja. Jadi gini, semula sa pilih buku yang berjejer di atas lemari. Tidak banyak. Buku-buku yang sudah dibaca dan yang sudah dibeli namun tak kunjung sa baca. Ya, manusia kan banyak alasan; alasan waktu, nanti deh, belum sempat, urusan kerjaan yang belum atau tak kunjung kelar, dan barangkali memang takkan selesai. Ada saja, ada lagi, ada lagi. Selalu saja ada. Namun setelah dipikir, sa ini kan bukan kolektor atau penimbun buku-buku. Sa punya buku ya buat dibaca. Buku-buku itu ada yang sa beli sendiri, ada yang dibelikan, ada pula hadiah dari penulisnya, ada juga pemberian atau hibah dari saudara, tepatnya kakak sepupu dari istri. Yang terakhir itu sa mau cerita sedikit. Ya, sa mengincar beberapa koleksi buku yang dimiliki kakak sepupu dari istri. Mas Yudi namanya. Buku-bu...

Rahasia Lusi*

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Pada Jumat malam, di minggu ketiga bulan Mei, ia belum juga mampu menekan satu tombol pun di keyboard komputernya. Sampai beberapa menit, halaman di layar komputer itu masih cukup bersih. Di halaman itu hanya ada satu nama, yang mungkin akan dijadikan sebagai judul karangan nya: LUSI. *** Lusi tiba di rumahnya sore hari. Biasanya ia tak pernah pulang terlambat. Lambat-lambatnya jam satu siang sudah tiba di rumah. Tapi, di sepanjang jalan dari sekolah ke rumahnya yang berjarak sekitar 500 meter, ia diikuti oleh seorang lelaki yang tak ia kenal. Makanya ia memilih jalan memutar untuk sampai ke rumahnya, dengan maksud mengecoh lelaki itu. Ia terus berjalan menunduk. Setibanya di depan rumah, sekilas ia melirik ke belakang. Dan, lelaki itu melemparkan senyum padanya. Cepat-cepat Lusi membuka lantas membanting pintu rumahnya dengan keras. Sampai-sampai lelaki itu pun kaget. Esoknya, ketika Lusi hendak berangkat sekolah, lelaki itu sudah berdiri di s...

Isi Kepala Sapto*

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Ia sudah begitu muak dengan semuanya. Segala hal yang ada di hadapannya sudah tentu akan dinilai salah olehnya. Bahkan ketika ia telah sampai di sebuah warung makan, kemuakannya belum juga sirna. “Pakai apa, Mas?” “Telur, Pak.” Sapto menunjuk dengan dagunya. “Ceplok, dadar, telur asin, atau telur puyuh?” Si empunya warung kembali bertanya. Sapto menjawab setelah mengembuskan nafas panjangnya. Ia menyerah dan merasa wajib menjawab pertanyaan itu demi menuntaskan suara nyaring cacing-cacing dalam perutnya. Ia tak mengerti, mengapa lelaki tua itu harus kembali bertanya padanya. Padahal, ia sudah menjawab dengan isyarat yang ditunjukkan dagunya. Tapi, Sapto tak sampai hati melontarkan kekesalannya itu. Karena, ia tahu, hal itu hanya akan membuang-buang energinya, yang memang hampir habis digerogoti kekesalannya. Sapto menyantap sarapan—sekaligus makan siangnya—tanpa selera, lantaran rasa muak itu telah lebih dulu mengendap dalam dirinya. Ia makan de...

Redupnya Cahaya di Wajah Nurlaela*

Image
oleh Wahyu Noerhadi Dengan amarah yang berkobar, mata golok siap menyambar. Urat leher siap jadi sasaran. Jerit orang-orang pun membuat suasana kian menegangkan. *** Perempuan berlesung pipit, bermata sipit, berambut ikal, dan bertubuh langsing itu adalah bibiku dari jalur ibu. Namanya Nurlaela. Mungkin maksudnya Nurlaila, yang dalam Bahasa Arab artinya cahaya malam. Namun, sepertinya, orang Sunda memang sudah terbiasa melafalkan “ai” menjadi “ae”. Ya, seolah-olah telah meniadakan hukum mad liin dalam ilmu tajwid. Seperti juga, orang Sunda kerap mengubah pengucapan kata atau kalimat yang mengandung huruf “f” menjadi huruf ( hurup? ) “p”. Tetapi, itu hanyalah masalah atau kebiasaan lidah. Bagaimana pun pengucapannya, mungkin maksud hati tidaklah lain. Buktinya, bibiku itu memang memiliki cahaya di wajahnya. Nurlaela adalah anak bontot dari empat bersaudara. Dan, sejak umur 12 tahun ia sudah diitinggalkan kedua orang tuanya. Maka, sejak saat itu kebutuhannya ditanggung ole...

Rahasia*

oleh Wahyu Noerhadi Syahdan, di suatu tempat terdapatlah dua orang lelaki yang tengah menyusuri padang pasir. “Muridku, aku takkan berhenti berjalan sebelum kita sampai pada pertemuan antara dua buah lautan. Aku akan berjalan terus meski harus menempuh waktu selama bertahun-tahun.” Ujar salah seorang kepada seseorang di sampingnya. Si murid menatap airmuka sang guru, lantas dengan mantap ia menganggukan kepalanya. Di bawah sengat matahari, di atas hamparan padang, mereka terus bercakap-cakap kesana-kemari. Tiap kali mata memandang, tiap itu pula mata tertumbuk pada fatamorgana. Bahkan, tak jarang mata mereka pun mungkin akan mendapati sebuah oasis yang menggiurkan di tengah kegersangan. Sesekali mereka berhenti sejenak untuk beristirah. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Hati senang bukan alang-kepalang. Setelah lama berjalan, tibalah mereka di tempat pertemuan dua buah lautan. Mereka masih menapaki padang sembari menikmati aroma lautan. “Muridku, bawalah kemari makanan kita. ...

Meditasi*

oleh Wahyu Noerhadi “Ini acara selesai jam berapa, Mas?” sapa pemuda di depanku sembari menengok ke arlojinya. “Di manual acaranya sih sampai jam dua belas, tapi kebiasaan kita ‘kan mulur. Jadi, ya, paling banter kita selesai jam tiga pagi kayaknya Mas. Ho-ho-ho,” jawabku kepada pemuda yang belum kuketahui namanya itu. Percakapan itu terjadi sesaat sebelum aku mencolek pipi kiri Ayu, teman sekelasku yang juga kekasih dari pemuda yang belum kuketahui namanya itu. Kemudian, dengan air muka yang tak bisa kujelaskan, pemuda itu bangkit dari kursi dan tiba-tiba menepuk pundakku, lalu mengajakku ke luar ruangan. “Kalau memang lelaki, ayo kita selesaikan di sini!” geretak pemuda itu dengan tangannya mencengkeram kerah bajuku. “ Lho, lho, lho, Mas...” Belum selesai aku bicara. Buuuggg. Satu tinju mendarat di pipi kiriku. Aku kebingungan dan pemuda itu terus saja meracau sambil mengendurkan kerah bajuku, dan berlalu. Ayu, yang berdiri tegap di belakangku ikut berlalu bersama k...