Posts

Showing posts with the label Essay

Kondisi Tayangan Televisi Kita

Image
Ilustrasi: pexels.com Oleh: Noerhadi WN Saya sampaikan di awal, tulisan ini adalah hasil dari catatan saya sebagai mahasiswa ketika dosen menyampaikan materi terkait Kapitalisme Media pada mata kuliah Ekonomi Politik Media, yang saya gabungkan dengan hasil catatan ketika menonton beberapa video di channel YouTube Remotivi , sebagai Pusat Kajian Media dan Komunikasi.  Keduanya saya gabungkan dan saya kembangkan. Sementara itu, judul di atas saya kira sudah kita pahami bersama; seperti apa kondisi tayangan televisi kita yang akhirnya sering bikin muak dan mual.  Bagaimana tidak mual, hampir tiap jeda iklan, kita terus-menerus dicekoki Mars Perindo misalnya.  Atau di stasiun televisi swasta lain, kita disuguhi debat politik—bukan pendidikan politik—yang justru sering bikin kita emosi sendiri atas argumen, tingkah-polah para politisi dan simpatisan partai itu. Atau, ada juga tayangan-tayangan sinetron yang karena kejar tayang akhirnya si penulis cerita berbuat seen...

Harakah An-Nahdliyyah li Az-Zakah*

Image
Oleh: Ma'ruf Amin** "Berzakatlah kalian seperti shalat, puasa, haji karena itu kewajiban." Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asaakir, dari Jabir bin Abdillah RA, dari Rasulullah SAW, Allah berfirman,  “Inna hadza diinun irtadloituhu linafsi, lan yushlihahu illaa as-sakhoo-u wa husnul khuluq, fa akrimuuhu bihima maa shohibtumuuhumaa."  (Inilah agama yang Aku ridhai untuk diri-Ku. Tidak ada yang mampu membuatnya bagus, kecuali kedermawanan dan akhlak yang bagus. Karena itu, muliakanlah agama ini dengan yang dua itu selama kamu melestarikannya). Mengapa kedermawanan? Sebab harta adalah titipan Allah. Titipan itu bisa benar-benar menjadi anugerah kalau manfaatnya mampu menetes kepada lingkungan. Bagi seorang mukmin, segala isi dunia ini, termasuk harta, harus berfungsi ibadah. Ibadah berarti infak.  “Wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun."  (Dan sebagian dari yang Kami anugerahkan, mereka infakkan: derma). Sungguh merugi, ...

Mari 'Membaca' Pancasila!*

Image
oleh Wahyu Noerhadi Kita tentu tak asing lagi dengan istilah gemah ripah loh jinawi . Ya, semuanya ada di Indonesia. Kekayaan alam melimpah ruah di bumi yang kita pijak ini: Indonesia. Tak hanya itu, Indonesia pun penuh dengan keberagaman. Kita tahu, berbagai macam etnis, ras, suku, agama, budaya, ada di Indonesia. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyebutkan bahwa ada lebih dari 500 suku bangsa di Nusantara. [1] Sungguh merupakan suatu kekayaan bangsa yang tentu tidak dimiliki oleh negara lain. Sudah sepatutnya kita berterimakasih kepada para Founding Fathers yang telah berjuang mempersatukan keberagaman yang ada di Indonesia, dengan berdasarkan pada Pancasila. Mari barang sejenak kita bernostalgia! Tentu kita masih ingat pada pertanyaan ketua BPUPKI, dr. Radjiman Wedyodiningrat yakni, “Negara Indonesia yang akan kita bentuk ini apa dasarnya?” . Kemudian, pada tanggal 1 Juni 1945 Ir. Soekarno menjawab pertanyaan itu. Dengan lantang Bung Karno mengemukakan bahwa negar...

Segalanya (memang) tentang Proses

Image
oleh Wahyu Noerhadi Di sebuah workshop atau kelas-kelas kepenulisan, mungkin akan selalu ada pertanyaan seperti ini: “Bagaimana sih cara membuat tulisan yang baik?”. Ya, pertanyaan semacam itu barangkali sering atau setidaknya pernah muncul di batok kepala kita—yang berkeinginan jadi penulis. Pertanyaan itu merupakan pertanyaan penting dan klise. Setelah saya cari tahu, ternyata jawabannya amatlah simpel. Kalau tidak keliru, saya pernah dengar Pram, ketika mendapatkan pertanyaan seperti di atas, beliau menjawab: “Nulis, nulis saja!” Saya sepakat dengan jawaban simpel itu. Saya pikir, segalanya memang tergantung pada diri kita. Nasib ada di kita. Kita tidak mungkin jadi penulis, jika tiap hari kerjaan kita memukuli orang. Jika kita lebih gemar memukuli orang, sepertinya kita lebih cocok jadi preman atau pegulat ketimbang penulis. Ya, jika kita betul-betul ingin jadi penulis maka kita hanya perlu menulis, menulis, dan menulis. Menulis kapan pun dan di mana pun, kecuali dalam w...

Pendidikan ‘Horor’*

Image
oleh Wahyu Noerhadi            Kemarin sore, saya terhenyak ketika mendengar berita di televisi yang mengabarkan pelecehan seksual pada anak usia dini yang dilakukan oleh seorang guru TK. Kenapa bisa terjadi hal sebobrok itu? Seorang guru dengan jenjang pendidikan yang memadai, semestinya memberikan pengajaran malah meruwetkan keadaan. Belum lagi kasus sekte seks bebas yang pernah muncul di Bandung, pada Mei tahun lalu (VIVA news). Seorang ibu dan anaknya melakukan seks bersama. Si anak melihat bahkan membiarkan ibunya digilir sembilan pria dalam satu ruangan. Lebih gilanya lagi, ada beberapa pasangan yang melakukan ‘ritual’ itu di alam terbuka. Sebenarnya apa maksud kegiatan tersebut? Mengapa tidak sekalian saja memproduksi film porno supaya mereka bisa menghasilkan berpundi-pundi rupiah sekaligus mendapat ganjaran di akhirat kelak? Persoalan-persoalan semacam itu harus kita cari penyebabnya. Faktor-faktor pemicunya memang beragam. Tetapi, sep...