Posts

Showing posts with the label Notes

Melihat Kegilaan "Vegetarian"

Image
cover depan "Vegetarian" -   Catatan tentang Novel "Vegetarian" Han Kang Kekinian, boleh kubilang ini sebuah prestasi pribadi; pengalaman membaca yang menurutku sukses, karena biasanya aku tidak kerasan (malas) dan sering berganti-ganti bacaan. Bahkan beberapa bacaan masih belum kubuka plastiknya, apalagi dibaca. Dibaca sebentar, lalu bosan atau—alasan—gak sempat. Sudah begitu, nyari atau dapat referensi lain lalu beli buku baru lagi. Di lemari, mungkin ada buku yang sudah setahun kubeli tapi belum sempat atau tidak kunjung selesai kubaca. Intinya, sudah sangat jarang aku bisa merampungkan novel atau kumcer dalam waktu kurang dari sebulan, sebelum di sudut rak toko buku istriku mendapati segenggam novel pemenang Nobel Sastra tahun 2024 ini: Vegetarian. * Seperti kata AS Laksana dan diajarkannya di buku penulisan kreatif atau dalam tulisan-tulisannya di Facebook, bahwa paragraf pertama adalah yang utama; jurus jitu untuk menarik minat pembaca. Yang kuingat,...

Bukan Membanding-bandingkan*

Image
Kumpulan cerpen Pak Kayam (kiri) dan Kumpulan cerpen Paman Yusi (kanan) Bukan, bukan membanding-bandingkan. Hanya saja ini perkara selera. Lha gimana, wong itu yang sa rasa. Dan ini sekadar pembacaan orang awam saja. Jadi gini, semula sa pilih buku yang berjejer di atas lemari. Tidak banyak. Buku-buku yang sudah dibaca dan yang sudah dibeli namun tak kunjung sa baca. Ya, manusia kan banyak alasan; alasan waktu, nanti deh, belum sempat, urusan kerjaan yang belum atau tak kunjung kelar, dan barangkali memang takkan selesai. Ada saja, ada lagi, ada lagi. Selalu saja ada. Namun setelah dipikir, sa ini kan bukan kolektor atau penimbun buku-buku. Sa punya buku ya buat dibaca. Buku-buku itu ada yang sa beli sendiri, ada yang dibelikan, ada pula hadiah dari penulisnya, ada juga pemberian atau hibah dari saudara, tepatnya kakak sepupu dari istri. Yang terakhir itu sa mau cerita sedikit. Ya, sa mengincar beberapa koleksi buku yang dimiliki kakak sepupu dari istri. Mas Yudi namanya. Buku-bu...

Tara Basro dan Dampak Komodifikasi Media

Image
Sumber gambar: instagram.com/tarabasro Standar kecantikan ideal yang dikonstruksi—sekaligus dieksploitasi—oleh media itu tidak lain adalah bentuk komodifikasi. Prinsip komodifikasi diartikan sebagai proses transformasi nilai guna jadi nilai tukar. Vincent Mosco (1996) menyebut, komodifikasi ini sebagai kegiatan produksi dan distribusi komoditas yang lebih mempertimbangkan daya tarik, agar banyak dipuja oleh orang dibandingkan dengan fungsinya sendiri sebagai barang dagangan. Satu contoh yang jamak dimafhumi, wanita ideal selalu dicitrakan berkulit putih atau kuning langsat, tinggi dan berbodi bak top model yang berlenggang di arena catwalk . Orang kita biasanya menyebut wanita dengan ciri-ciri di atas dengan akronim yang mengarah kepada nama burung kecil berbunyi nyaring: Kutilang (kuning, tinggi, langsing). Tentu sudah sejak lama konstruksi itu berjalan. Ya, kita tahu, pada akhirnya konstruksi dan komodifikasi media adalah strategi dalam bisnis-industri semata. ...

Baran, Film yang Tenang dan Menyenangkan

Image
Cover film Baran (2001) Baran (2001), seperti kata kawan saya, memang film yang menyenangkan dan layak untuk ditonton ulang. Film garapan sutradara dan penulis Iran Majid Majidi ini, bisa dibilang film yang hampir bisu atau minim dialog. Ya, mungkin seperti film-film Iran yang lain; hampir bisu dan dengan pemandangan yang seakan apa adanya. Mungkin sudah jadi karakter film Iran. Saya pernah juga lihat film Iran yang lain; Close-Up (1990), besutan Abbas Kiarostami. Pun demikian. 'Tenang' dan menyenangkan. Beda dengan film-film Hollywood, yang menawarkan pemandangan (gambar) indah; saking kerennya jalan cerita bikin takjub sekaligus dahi berkerut; juga film-film mutakhir penuh dengan kecanggihan efek CGI. Ya, memang tergantung genre dari film itu sendiri sih. Dan, tontonan kita (saya) tampaknya memang terlalu didominasi Hollywood sih! Kawan saya yang lain bilang, film Hollywood sekarang minim (atau miskin) rasa. "Sci-fi memang jagonya, tapi kalo drama ya me...

Hidup Hanya Singgah untuk Memandang dan Mendengarkan

Image
Catatan Wahyu Noerhadi Lukisan bertajuk "Merajut Tali Persaudaraan" karya A. Nazilie (2017) Siang  itu, tidak sengaja aku berjumpa dengan seorang kawan di kantin kampus. Duduklah kita; pesan makan-minum, merokok, dan ngobrol. “Satu waktu pas gue mau liputan di tempat penggusuran, gue iseng-iseng tanya perasaan si ibu yang lapaknya bakal kena gusur. Si ibu itu punya anak tiga, kecil-kecil, dan suaminya nggak tau ke mana. Gue ‘kan sedih, ya. Dan, elu tau apa jawabannya waktu gue tanya perasaan si ibu itu dan bakal gimana setelah lapaknya digusur?” Pertanyaan yang bukan sungguh pertanyaan. Bang Anto, seorang editor di sebuah media nasional, melanjutkan, “Katanya biasa saja, karena baginya itu hal yang biasa. Si ibu itu bakal cari tempat lain buat lapaknya. Ya, gue liat dan denger sendiri, si ibu itu mengungkapkannya dengan enteng, biasa-biasa saja.” Bang Anto mengambil jeda, mengisap dan mengembuskan asap rokoknya. “Nah, kalo pas gitu, kadang—ya, kadang— ...

Menengok Adat Suku Sasak di Kampung Sade

Image
-Mulai dari Tari Peresean, Kawin Culik, sampai ke Tahi Kerbau Rombongan Riweuh Usai merampungkan beberapa acara, kami menyempatkan diri berkunjung ke Kampung Sade; sebuah kampung adat yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Sesampainya di Kampung Sade, kami dan para pengunjung lain disuguhi iringan musik serta pertarungan kedua lelaki yang mengenakan pakaian adat. Bukan, bukan tarung betulan. Itu adalah tarian. Kalau kuping saya tidak keliru, pemandu bilang nama tari tersebut adalah tari Peresean. Tari Peresean “Tari Peresean ini ada sejak zaman kerajaan di Lombok. Tari ini diperagakan dalam rangka menyambut para prajurit saat pulang dari medan perang,” kata Talib si pemandu. Tari Peresean Tari atau pertarungan dengan iringan musik itu, disenjatai tongkat sebagai pemukul serta tangan kiri dilengkapi dengan tameng. Peraturannya, masing-masing petarung tidak boleh memukul bagian perut ke bawah. Hanya perut sampai kepala yang bo...

Teringat "Asal Usul" Mahbub Djunaidi

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Kadang, di sela-sela kerjaan, saya menyempatkan baca  Kompas.  Terlebih  Kompas  Minggu. Sebab, di situlah saya bisa baca cerpen dan rubrik "Udar Rasa". Membaca "Udar Rasa" kerap menyegarkan batok kepala saya yang kadang  umeb  dengan rencana-rencana kerja. Kesegaran--dan kadang di dalamnya ada pula kejenakaan--rubrik itu mengingatkan saya pada "Asal Usul", kolom yang diisi penuh oleh Almarhum (Mbah) Mahbub Djunaidi, yang sudah dibukukan oleh Penerbit Kompas sendiri, pada tahun '96.     Kolom "Asal Usul" Harian Kompas memang telah marhum, sebagaimana Mahbub, selaku kolumnisnya. Sayang betul tentunya, kita tak bisa lagi menjumpai tulisan-tulisan Mahbub yang kritis, bernas, penuh taburan humor, dan kaya metafor itu. Entah pula, kenapa saya mempertanyakan kepergian "Asal Usul"? Apakah memang sudah tak ada lagi kolumnis yang humoris sekaliber Mahbub? Apa betul kadar humor kita sudah berkurang,...