Posts

Pembelaan yang Datang Terlambat

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Sebetulnya, cukup lama saya ingin mengungkapkan hal ini. Sebab, jika terus-terusan dipendam, rasanya sangat tidak nyaman. Ibarat bersin yang gagal. Begini: saat ujian skripsi—di kampus saya disebut dengan istilah munaqosyah—saya betul-betul ingin menanggapi pendapat, kritik, dan saran dari para penguji atas skripsi saya yang berjudul “Komunikasi Sufistik dalam Kajian Realisme Magis (Telaah Realisme Magis Wendy B. Faris terhadap Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi Karya A. Mustofa Bisri)”. Dalam beberapa—sesungguhnya hanya satu—hal, saya menyetujui saran para penguji atas skripsi saya itu. Terutama soal metodologi penelitian yang harus dipindahkan ke bab 3, dan tidak lagi di bab 1 (pendahuluan). Pada bagian itu, saya memang keliru, karena menggunakan buku panduan skripsi yang belum direvisi. Ya, meskipun skripsi yang susun itupun tentunya berdasar pada referensi skripsi-skripsi sebelumnya, baik dari kampus sendiri maupun kampus lainnya, semisal UI, UGM, dan UI...

Sepatu Bodhol*

Image
oleh Wahyu Noerhadi Sore itu akan menjadi sore paling membahagiakan bagi Den Baguse. Sebab, ia akan pergi kencan ke Taman Sari dengan seorang gadis. Ia akan kencan dengan gadis yang telah lama dikagumi dan dirindukannya. Gadis itu bernama Lady Cempluk. Ia adalah mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Sedangkan Den Baguse adalah seorang lelaki pemalu yang juga sedang menimba ilmu, di salah satu kampus di Purwokerto. Tiga tahun yang lalu mereka berjumpa dalam acara Temu Teater Mahasiswa Nusantara, di kampus tempat Den Baguse belajar. Dan, selama 6 semester itu mereka berdua tak pernah kembali berjumpa. Mereka hanya menjalin hubungan lewat telepon. Dan kini, di sela-sela waktu magangnya di Jogja, Den Baguse memiliki kesempatan untuk bertatap muka dengan tambatan hatinya. Waktu yang telah ditentukan pun tiba. Den Baguse sudah berada di Taman Sari sejak pukul 15.10 WIB, tapi Lady Cempluk belum juga kelihatan lenggok pinggulnya. Hingga pukul setengah empat sor...

Bertamasya di Dataran Tortilla

Image
oleh Wahyu Noerhadi Mukadimah Seperti di novel itu, saya pun ingin menuliskan sedikit pendahuluan atau tepatnya riwayat, perjumpaan serta kesan saya terhadap novel milik (si Sialan) John Steinbeck itu. Kelak, setelah kau membacanya, kau pun bakal menyebutnya dengan nama seperti dalam kurung itu, atau nama lain yang senada dengannya. Begini riwayatnya: Dataran Tortilla (Tortilla Flat), saya dapatkan di Jogja. Tepatnya di toko buku JBS (Jual Buku Sastra), di jalan Wijilan, seingat saya. Teman saya memesannya saat saya sedang berada di kota istimewa itu. Nah, setelah saya selesai dengan novel dan kumpulan cerpen yang saya beli—adapun novel dan kumpulan cerpen itu ialah: Kenangan Perempuan Penghibur yang Melankolis milik Gabriel Garcia Marquez, dan kumpulan cerpen Kenangan Cinta milik Anton Chekhov—saya tentu penasaran dengan novel pesanan kawan saya itu. Ya, saya penasaran, ingin melahap ketiga novel terjemahan itu. Jujur saja, awalnya saya memang iseng membolak-balik halama...

Sedikit Cerita dari Kawanku

Oleh: Wahyu Noerhadi Akhirnya aku berjumpa lagi dengannya di kantin kampus. Sebenarnya, aku tidak menduga akan kembali berjumpa dengannya, meski aku pun mafhum, tiap pagi ia dan kawan-kawannya bakal nongkrong dan memesan ‘sesajen’ (kretek dan kopi hitam) di sini. Kini ia memang tampak lebih kurus ketimbang waktu kami masih sering bersama, ketika kami masih semester 3. Selain lebih kurus, janggutnya pun terlihat lebih lebat. Namun, ada satu yang tidak berubah darinya, yaitu penampilannya. Ya, penampilannya itu—yang kerap membuat orang barang sejenak tak bisa mengalihkan pandang padanya—selalu saja perlente. “Hey, bagaimana kabarmu?” “Ya, seperti yang kau lihat,” jawabnya sembari menarik kursi, dan duduk di hadapanku. Sekitar lima belas menit kami berbasa-basi: saling menanyakan kabar dan kesibukan. Setelah lima belas menit yang membosankan itu, ia pun mulai mengubah air mukanya. Ia memang nampak sedang memenjarakan sesuatu dalam kepalanya, dalam hatinya. Hal itu bisa kulihat d...

Redupnya Cahaya di Wajah Nurlaela*

Image
oleh Wahyu Noerhadi Dengan amarah yang berkobar, mata golok siap menyambar. Urat leher siap jadi sasaran. Jerit orang-orang pun membuat suasana kian menegangkan. *** Perempuan berlesung pipit, bermata sipit, berambut ikal, dan bertubuh langsing itu adalah bibiku dari jalur ibu. Namanya Nurlaela. Mungkin maksudnya Nurlaila, yang dalam Bahasa Arab artinya cahaya malam. Namun, sepertinya, orang Sunda memang sudah terbiasa melafalkan “ai” menjadi “ae”. Ya, seolah-olah telah meniadakan hukum mad liin dalam ilmu tajwid. Seperti juga, orang Sunda kerap mengubah pengucapan kata atau kalimat yang mengandung huruf “f” menjadi huruf ( hurup? ) “p”. Tetapi, itu hanyalah masalah atau kebiasaan lidah. Bagaimana pun pengucapannya, mungkin maksud hati tidaklah lain. Buktinya, bibiku itu memang memiliki cahaya di wajahnya. Nurlaela adalah anak bontot dari empat bersaudara. Dan, sejak umur 12 tahun ia sudah diitinggalkan kedua orang tuanya. Maka, sejak saat itu kebutuhannya ditanggung ole...

Segalanya (memang) tentang Proses

Image
oleh Wahyu Noerhadi Di sebuah workshop atau kelas-kelas kepenulisan, mungkin akan selalu ada pertanyaan seperti ini: “Bagaimana sih cara membuat tulisan yang baik?”. Ya, pertanyaan semacam itu barangkali sering atau setidaknya pernah muncul di batok kepala kita—yang berkeinginan jadi penulis. Pertanyaan itu merupakan pertanyaan penting dan klise. Setelah saya cari tahu, ternyata jawabannya amatlah simpel. Kalau tidak keliru, saya pernah dengar Pram, ketika mendapatkan pertanyaan seperti di atas, beliau menjawab: “Nulis, nulis saja!” Saya sepakat dengan jawaban simpel itu. Saya pikir, segalanya memang tergantung pada diri kita. Nasib ada di kita. Kita tidak mungkin jadi penulis, jika tiap hari kerjaan kita memukuli orang. Jika kita lebih gemar memukuli orang, sepertinya kita lebih cocok jadi preman atau pegulat ketimbang penulis. Ya, jika kita betul-betul ingin jadi penulis maka kita hanya perlu menulis, menulis, dan menulis. Menulis kapan pun dan di mana pun, kecuali dalam w...

Ketika Waktu Merayu

kini hanya ada kau dan diriku dalam suatu jamuan purba para pertapa ya, lagi-lagi aku musti menyantap wajahku dalam dirimu aku tahu, aku takkan mampu mengelak rayuanmu yang manis dan bengis itu Bogor, Februari 2013