Posts

RAMADHAN*

Image
Oleh Mahbub Djunaidi DILIHAT dari arah bintang, tidak ada beda antara calon kontestan yang dapat kursi dan yang tidak. Sama-sama menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan hati gembira. Begitu dengar bunyi beduk bertalu-talu, kedua golongan hamba Allah itu sama-sama mengucap syukur bisa diberi umur panjang bertemu lagi dengan bulan puasa. Sama-sama ke pasar beli sirup, dan sama-sama pula ke pasar beli dendeng kering. Sebab, di mata Tuhan kedua golongan itu tak ada beda karena yang jadi ukuran adalah takwanya. Dapat atau tidak dapat kursi sama sekali bukan ukuran. Di mata manusia, khusus di mata istri atau mertua, boleh jadi ada beda, tapi tidak di mata Tuhan. Boleh jadi golongan yang kebagian kursi sedikit lebih necis dibanding lainnya yang lebih klomprot, tapi kedua macam penampilan itu tidaklah begitu tampak dan pula tidaklah begitu menentukan. Yang penting, masing-masing sepakat bahwa mestilah dicamkan di dalam kalbu bunyi Al Qur’an dalam surah Al Baqarah ayat 183 “Wa...

Rahasia Lusi*

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Pada Jumat malam, di minggu ketiga bulan Mei, ia belum juga mampu menekan satu tombol pun di keyboard komputernya. Sampai beberapa menit, halaman di layar komputer itu masih cukup bersih. Di halaman itu hanya ada satu nama, yang mungkin akan dijadikan sebagai judul karangan nya: LUSI. *** Lusi tiba di rumahnya sore hari. Biasanya ia tak pernah pulang terlambat. Lambat-lambatnya jam satu siang sudah tiba di rumah. Tapi, di sepanjang jalan dari sekolah ke rumahnya yang berjarak sekitar 500 meter, ia diikuti oleh seorang lelaki yang tak ia kenal. Makanya ia memilih jalan memutar untuk sampai ke rumahnya, dengan maksud mengecoh lelaki itu. Ia terus berjalan menunduk. Setibanya di depan rumah, sekilas ia melirik ke belakang. Dan, lelaki itu melemparkan senyum padanya. Cepat-cepat Lusi membuka lantas membanting pintu rumahnya dengan keras. Sampai-sampai lelaki itu pun kaget. Esoknya, ketika Lusi hendak berangkat sekolah, lelaki itu sudah berdiri di s...

Memprotes Realitas*

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Apakah neg e riku ini adalah roda Yang macet di tengah lika-liku peradaban Tak kunjung membaik ju g a R.I.P. untukmu: Indonesia -  M. Rifky Fathur Rizqi - Perlu saya sampaikan di awal bahwa, buku ini menghadirkan pelbagai wacana yang dikemas dengan apik oleh mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) STAIN Purwokerto angkatan 2012. Wacana itu dikemas dalam bentuk puisi, cerpen, esai, dan karya tulis ilmiah. Tentu, saya sedikit kewalahan untuk menemukan benang merah dari apa yang mereka sampaikan dalam karyanya. Lantaran saya mesti mondar-mandir dari satu karya ke karya yang lain dalam bentuk yang berbeda, misal dari karya puisi ke karya tulis ilmiah. Namun kita tahu, setiap karya (naskah) diciptakan dengan menggunakan bahasa (baca: tulisan). Kemudian, dengan bersandar pula pada pendapat Sutan Takdir Alisjahbana (Wachid dan Heru, 2011: 5) bahwa bahasa adalah manifestasi atau alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang. Maka, wajar s...

Teringat "Asal Usul" Mahbub Djunaidi

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Kadang, di sela-sela kerjaan, saya menyempatkan baca  Kompas.  Terlebih  Kompas  Minggu. Sebab, di situlah saya bisa baca cerpen dan rubrik "Udar Rasa". Membaca "Udar Rasa" kerap menyegarkan batok kepala saya yang kadang  umeb  dengan rencana-rencana kerja. Kesegaran--dan kadang di dalamnya ada pula kejenakaan--rubrik itu mengingatkan saya pada "Asal Usul", kolom yang diisi penuh oleh Almarhum (Mbah) Mahbub Djunaidi, yang sudah dibukukan oleh Penerbit Kompas sendiri, pada tahun '96.     Kolom "Asal Usul" Harian Kompas memang telah marhum, sebagaimana Mahbub, selaku kolumnisnya. Sayang betul tentunya, kita tak bisa lagi menjumpai tulisan-tulisan Mahbub yang kritis, bernas, penuh taburan humor, dan kaya metafor itu. Entah pula, kenapa saya mempertanyakan kepergian "Asal Usul"? Apakah memang sudah tak ada lagi kolumnis yang humoris sekaliber Mahbub? Apa betul kadar humor kita sudah berkurang,...

Penistaan terhadap Jomblo?

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Sumber foto: Kompasiana " WHO Godok Pedoman Baru, Jomblo Bisa Masuk Kategori Penyandang Disabilitas " "Berita macam apa itu!"  pikir saya. Dan, karena berita di atas itu pula kawan saya membuat spekulasi lewat status  facebook -nya bahwa, WHO telah melakukan penistaan terhadap kaum jomblo sedunia. Begitu tulis kawan saya. Bahkan, kawan saya mengaitkan rencana WHO itu akan berdampak pada kebijakan APBN dan APBD, sebab kata kawan saya, nantinya perlu fasilitas-fasilitas khusus jombloiyah. Misal, jika sebelumnya di trotoar sudah ada paving berwarna kuning untuk para penyandang tunanetra, maka pemerintah pun harus membuat desain jalan yang juga ramah untuk para (calon) tuna asmara—paving warna pink (atau abu-abu galau?), mungkin. Dalam hal ini, Kementerian PUPR dan Dinas Tata Kota harus membangun infrastuktur bagi jomblo-jomblo. Ya, di Bandung memang sudah ada Taman Jomblo. Lha, bagaimana dengan daerah lainnya? Selain itu, kawan...

Dipecundangi "Pecundang"

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Saya mendapatkannya beberapa bulan setelah saya bekerja di Jakarta, tepatnya sehabis bermalam di rumah salah seorang manajer. Malam itu, di ruang tamu, terpampang rak dengan buku-buku yang cukup tebal. Seingat saya ada buku-buku filsafat, sejarah, hukum, tasawuf, dan novel. Ada Sejarah Tuhan -Nya Amstrong, ada Dunia Shopie -nya Jostein Gaarder, dan lain-lain. Mata saya menemukan nama Maxim Gorky di deretan buku-buku. Judulnya Pecundang . Covernya amat menarik bagi saya. Awalnya, saya menimang-nimang beberapa buku yang menarik minat saya untuk meminjamnya. Namun, demi kenyamanan hati seorang tamu kepada tuan rumah atau mungkin sebaliknya, maka saya hanya menjumut  Pecundang dan  Dunia Shopie --yang memang belum pernah saya selesaikan. Saat melihat deretan buku di rak itu, juga ketika menimang-nimangnya, saya kagum kepada Pak Manajer. Saya jadi menaruh hormat lebih padanya. "Bacaannya 'keren' untuk orang kantoran (orang 'formal') yang sib...

Isi Kepala Sapto*

Image
Oleh: Wahyu Noerhadi Ia sudah begitu muak dengan semuanya. Segala hal yang ada di hadapannya sudah tentu akan dinilai salah olehnya. Bahkan ketika ia telah sampai di sebuah warung makan, kemuakannya belum juga sirna. “Pakai apa, Mas?” “Telur, Pak.” Sapto menunjuk dengan dagunya. “Ceplok, dadar, telur asin, atau telur puyuh?” Si empunya warung kembali bertanya. Sapto menjawab setelah mengembuskan nafas panjangnya. Ia menyerah dan merasa wajib menjawab pertanyaan itu demi menuntaskan suara nyaring cacing-cacing dalam perutnya. Ia tak mengerti, mengapa lelaki tua itu harus kembali bertanya padanya. Padahal, ia sudah menjawab dengan isyarat yang ditunjukkan dagunya. Tapi, Sapto tak sampai hati melontarkan kekesalannya itu. Karena, ia tahu, hal itu hanya akan membuang-buang energinya, yang memang hampir habis digerogoti kekesalannya. Sapto menyantap sarapan—sekaligus makan siangnya—tanpa selera, lantaran rasa muak itu telah lebih dulu mengendap dalam dirinya. Ia makan de...