Posts

Tara Basro dan Dampak Komodifikasi Media

Image
Sumber gambar: instagram.com/tarabasro Standar kecantikan ideal yang dikonstruksi—sekaligus dieksploitasi—oleh media itu tidak lain adalah bentuk komodifikasi. Prinsip komodifikasi diartikan sebagai proses transformasi nilai guna jadi nilai tukar. Vincent Mosco (1996) menyebut, komodifikasi ini sebagai kegiatan produksi dan distribusi komoditas yang lebih mempertimbangkan daya tarik, agar banyak dipuja oleh orang dibandingkan dengan fungsinya sendiri sebagai barang dagangan. Satu contoh yang jamak dimafhumi, wanita ideal selalu dicitrakan berkulit putih atau kuning langsat, tinggi dan berbodi bak top model yang berlenggang di arena catwalk . Orang kita biasanya menyebut wanita dengan ciri-ciri di atas dengan akronim yang mengarah kepada nama burung kecil berbunyi nyaring: Kutilang (kuning, tinggi, langsing). Tentu sudah sejak lama konstruksi itu berjalan. Ya, kita tahu, pada akhirnya konstruksi dan komodifikasi media adalah strategi dalam bisnis-industri semata. ...

Sepulang Kerja

Image
Credit: Unsplash Pulang kerja ia bawa segembol pegal di punggung, hangat di tengkuk. Ia lempar-hempaskan badan di ranjang, sembari mata menatap film aksi di televisi dan ponsel memutar lagu anyar Coldplay. Sekadar bunyi, katanya;  asal tidak sepi. Tangannya meraih buku sembarang. Buku yang tak kunjung selesai berbulan-bulan. Usai beri kabar ke pacar, ia hirup buku itu. Tiba-tiba, ia merasa harus mencari sesuatu. Ia matikan TV, menengok ke dalam dadanya: Ada anak kecil menunduk. Memeluk kedua lututnya. Ketika kutatap, ia menatap balik. Matanya nyala. Mata yang sejati itu. Biru. Lelaki itu sadar, ia sudah lama di pasar.  Dan sudah lama tidak ke kub uran. Ah, barangkali di kuburan itu ia bisa melihat dirinya sudah mati! Jakarta, 5 Februari 2020. 00:21

Ingatan dari Pantai Trikora

Image
Pantai Trikora, di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Foto:  http://www.tanjungpinangpos.co.id Hey lihat, di pantai Trikora yang biru dan tenang itu, seorang bocah berlari telanjang kaki menuju bibir pantai, hampiri ombak kecil sentuh kaki mungil. Bocah itu berlari-lari dan tertawa-tawa. Lihatlah matanya. Begitu sejati. Ibunya di kejauhan. Bocah itu memanggil-manggil kakaknya. Mereka asyik berdua. Ibunya masih di kejauhan. Waktu berlalu dan kenangan tertancap di kepala. Bocah itu kini sudah mengerti. Dan kakaknya sudah jadi lelaki. Malam tadi, bocah itu bercerita akan pergi ke pantai. Bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Ia akan pergi. Sedangkan kakaknya di kota, dan bapaknya mesti kerja. “Aa, bisa nggak nanti nemenin ke pantai? Aa, tolong. Please!” Lewat telepon bapaknya, bocah itu menghubungi kakaknya. “Oh iya, ayo, Dek. Aa nanti pulang.” “Aa beneran mau nemenin?” “Siap, Dek.” “Kalo ada Mama, mesti Mama yang nemenin.” ...

Kondisi Tayangan Televisi Kita

Image
Ilustrasi: pexels.com Oleh: Noerhadi WN Saya sampaikan di awal, tulisan ini adalah hasil dari catatan saya sebagai mahasiswa ketika dosen menyampaikan materi terkait Kapitalisme Media pada mata kuliah Ekonomi Politik Media, yang saya gabungkan dengan hasil catatan ketika menonton beberapa video di channel YouTube Remotivi , sebagai Pusat Kajian Media dan Komunikasi.  Keduanya saya gabungkan dan saya kembangkan. Sementara itu, judul di atas saya kira sudah kita pahami bersama; seperti apa kondisi tayangan televisi kita yang akhirnya sering bikin muak dan mual.  Bagaimana tidak mual, hampir tiap jeda iklan, kita terus-menerus dicekoki Mars Perindo misalnya.  Atau di stasiun televisi swasta lain, kita disuguhi debat politik—bukan pendidikan politik—yang justru sering bikin kita emosi sendiri atas argumen, tingkah-polah para politisi dan simpatisan partai itu. Atau, ada juga tayangan-tayangan sinetron yang karena kejar tayang akhirnya si penulis cerita berbuat seen...

Harakah An-Nahdliyyah li Az-Zakah*

Image
Oleh: Ma'ruf Amin** "Berzakatlah kalian seperti shalat, puasa, haji karena itu kewajiban." Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asaakir, dari Jabir bin Abdillah RA, dari Rasulullah SAW, Allah berfirman,  “Inna hadza diinun irtadloituhu linafsi, lan yushlihahu illaa as-sakhoo-u wa husnul khuluq, fa akrimuuhu bihima maa shohibtumuuhumaa."  (Inilah agama yang Aku ridhai untuk diri-Ku. Tidak ada yang mampu membuatnya bagus, kecuali kedermawanan dan akhlak yang bagus. Karena itu, muliakanlah agama ini dengan yang dua itu selama kamu melestarikannya). Mengapa kedermawanan? Sebab harta adalah titipan Allah. Titipan itu bisa benar-benar menjadi anugerah kalau manfaatnya mampu menetes kepada lingkungan. Bagi seorang mukmin, segala isi dunia ini, termasuk harta, harus berfungsi ibadah. Ibadah berarti infak.  “Wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun."  (Dan sebagian dari yang Kami anugerahkan, mereka infakkan: derma). Sungguh merugi, ...

Baran, Film yang Tenang dan Menyenangkan

Image
Cover film Baran (2001) Baran (2001), seperti kata kawan saya, memang film yang menyenangkan dan layak untuk ditonton ulang. Film garapan sutradara dan penulis Iran Majid Majidi ini, bisa dibilang film yang hampir bisu atau minim dialog. Ya, mungkin seperti film-film Iran yang lain; hampir bisu dan dengan pemandangan yang seakan apa adanya. Mungkin sudah jadi karakter film Iran. Saya pernah juga lihat film Iran yang lain; Close-Up (1990), besutan Abbas Kiarostami. Pun demikian. 'Tenang' dan menyenangkan. Beda dengan film-film Hollywood, yang menawarkan pemandangan (gambar) indah; saking kerennya jalan cerita bikin takjub sekaligus dahi berkerut; juga film-film mutakhir penuh dengan kecanggihan efek CGI. Ya, memang tergantung genre dari film itu sendiri sih. Dan, tontonan kita (saya) tampaknya memang terlalu didominasi Hollywood sih! Kawan saya yang lain bilang, film Hollywood sekarang minim (atau miskin) rasa. "Sci-fi memang jagonya, tapi kalo drama ya me...

Persamaan Medsos dan Narkoba

Image
Sabrang atau Noe 'Letto' jelaskan Revolusi Industri 4.0 dalam diskusi publik di Gedung PBNU. Foto: NU Online Terdapat dua hal barang/jasa di dunia ini yang menjadikan pelanggan sekaligus pengguna, yaitu medsos (media sosial) dan narkoba. Keduanya sama-sama bersifat adiktif. Demikian disampaikan oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang juga dikenal Noe 'Letto' dalam  Diskusi  Politik dan Cyber Menuju Medsosul Karimah  di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Selasa (6/03) malam. "Medsos dan narkoba sama-sama membuat adiksi (kecanduan) dan didesain untuk membangun habit (kebiasaan) manusia," ungkap Sabrang dalam diskusi yang diselenggarakan Pengurus Pusat Pagar Nusa. Putra budayawan Emha Ainun Najib itu memberikan contoh, ketika ada bunyi pesan dari  handphone , kita langsung ingin segera membuka isi pesan itu. "Ketika ada bunyi 'ting' di hp yang menandakan adanya pesan, rasanya kita 'gatal', ingin sekali untuk membukanya. Sete...