Posts

Baran, Film yang Tenang dan Menyenangkan

Image
Cover film Baran (2001) Baran (2001), seperti kata kawan saya, memang film yang menyenangkan dan layak untuk ditonton ulang. Film garapan sutradara dan penulis Iran Majid Majidi ini, bisa dibilang film yang hampir bisu atau minim dialog. Ya, mungkin seperti film-film Iran yang lain; hampir bisu dan dengan pemandangan yang seakan apa adanya. Mungkin sudah jadi karakter film Iran. Saya pernah juga lihat film Iran yang lain; Close-Up (1990), besutan Abbas Kiarostami. Pun demikian. 'Tenang' dan menyenangkan. Beda dengan film-film Hollywood, yang menawarkan pemandangan (gambar) indah; saking kerennya jalan cerita bikin takjub sekaligus dahi berkerut; juga film-film mutakhir penuh dengan kecanggihan efek CGI. Ya, memang tergantung genre dari film itu sendiri sih. Dan, tontonan kita (saya) tampaknya memang terlalu didominasi Hollywood sih! Kawan saya yang lain bilang, film Hollywood sekarang minim (atau miskin) rasa. "Sci-fi memang jagonya, tapi kalo drama ya me...

Persamaan Medsos dan Narkoba

Image
Sabrang atau Noe 'Letto' jelaskan Revolusi Industri 4.0 dalam diskusi publik di Gedung PBNU. Foto: NU Online Terdapat dua hal barang/jasa di dunia ini yang menjadikan pelanggan sekaligus pengguna, yaitu medsos (media sosial) dan narkoba. Keduanya sama-sama bersifat adiktif. Demikian disampaikan oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang juga dikenal Noe 'Letto' dalam  Diskusi  Politik dan Cyber Menuju Medsosul Karimah  di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Selasa (6/03) malam. "Medsos dan narkoba sama-sama membuat adiksi (kecanduan) dan didesain untuk membangun habit (kebiasaan) manusia," ungkap Sabrang dalam diskusi yang diselenggarakan Pengurus Pusat Pagar Nusa. Putra budayawan Emha Ainun Najib itu memberikan contoh, ketika ada bunyi pesan dari  handphone , kita langsung ingin segera membuka isi pesan itu. "Ketika ada bunyi 'ting' di hp yang menandakan adanya pesan, rasanya kita 'gatal', ingin sekali untuk membukanya. Sete...

Fanatisme Pintu Masuk Setan Menguasai Manusia

Image
Ulil Abshar Abdalla sedang menyampaikan penjelasan kitab Ihya Ulumuddin , masterpiece karangan ulama Imam Ghazali. Ada beberapa pintu masuk atau cara setan menggoda dan menguasai manusia. Salah satunya yaitu fanatisme atau sifat fanatik. Fanatisme yang dimaksud adalah fanatisme terhadap mazhab dan juga fanatisme atas ahwa (pendapat). Penjelasan di atas disampaikan oleh Ulil Abshar Abdalla dalam pengajian bulanan 'Kopdar Ngaji Ihya' di Masjid An-Nahdlah PBNU, Kamis (1/03) malam. "Mazhab ini maksudnya aliran di dalam fiqih, sedangkan ahwa yaitu pendapat atau teori dalam ranah teologi. Di dalam fiqih pun ada  fiqih ihtiyathi  yang galak (tegas, red.) karena hati-hati,  dan ada juga  fiqih taisiri  yang lebih enteng, lebih santai," jelas Ulil sembari mengamati kitabnya. Dari Kitab  Ihya Ulumuddin  karya filsuf Islam terkemuka Imam Al-Ghazali, Ulil memaparkan bahwa fanatisme atas mazhab dan pendapat itu bisa melahirkan sifat dengki ata...

Hidup Hanya Singgah untuk Memandang dan Mendengarkan

Image
Catatan Wahyu Noerhadi Lukisan bertajuk "Merajut Tali Persaudaraan" karya A. Nazilie (2017) Siang  itu, tidak sengaja aku berjumpa dengan seorang kawan di kantin kampus. Duduklah kita; pesan makan-minum, merokok, dan ngobrol. “Satu waktu pas gue mau liputan di tempat penggusuran, gue iseng-iseng tanya perasaan si ibu yang lapaknya bakal kena gusur. Si ibu itu punya anak tiga, kecil-kecil, dan suaminya nggak tau ke mana. Gue ‘kan sedih, ya. Dan, elu tau apa jawabannya waktu gue tanya perasaan si ibu itu dan bakal gimana setelah lapaknya digusur?” Pertanyaan yang bukan sungguh pertanyaan. Bang Anto, seorang editor di sebuah media nasional, melanjutkan, “Katanya biasa saja, karena baginya itu hal yang biasa. Si ibu itu bakal cari tempat lain buat lapaknya. Ya, gue liat dan denger sendiri, si ibu itu mengungkapkannya dengan enteng, biasa-biasa saja.” Bang Anto mengambil jeda, mengisap dan mengembuskan asap rokoknya. “Nah, kalo pas gitu, kadang—ya, kadang— ...

Menengok Adat Suku Sasak di Kampung Sade

Image
-Mulai dari Tari Peresean, Kawin Culik, sampai ke Tahi Kerbau Rombongan Riweuh Usai merampungkan beberapa acara, kami menyempatkan diri berkunjung ke Kampung Sade; sebuah kampung adat yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Sesampainya di Kampung Sade, kami dan para pengunjung lain disuguhi iringan musik serta pertarungan kedua lelaki yang mengenakan pakaian adat. Bukan, bukan tarung betulan. Itu adalah tarian. Kalau kuping saya tidak keliru, pemandu bilang nama tari tersebut adalah tari Peresean. Tari Peresean “Tari Peresean ini ada sejak zaman kerajaan di Lombok. Tari ini diperagakan dalam rangka menyambut para prajurit saat pulang dari medan perang,” kata Talib si pemandu. Tari Peresean Tari atau pertarungan dengan iringan musik itu, disenjatai tongkat sebagai pemukul serta tangan kiri dilengkapi dengan tameng. Peraturannya, masing-masing petarung tidak boleh memukul bagian perut ke bawah. Hanya perut sampai kepala yang bo...

Soal Menulis, Banyak Pelajaran dari Mahbub Djunaidi

Image
Jakarta,   NU Online Pada acara penyerahan sertifikat kepada alumni Kelas Menulis   NU Online   angkatan ketiga di gedung PBNU lantai 5, Pemred   NU Online   Mukafi Ni’am, memberikan motivasi menulis ke kader-kader muda NU yang hadir di kesempatan itu. Menurut Ni’am, menulis adalah proses yang panjang dan tidak bisa jika hanya berhenti belajar setelah Kelas Menulis   NU Online . Ia mengambil contoh perjalanan karir kepenulisan Mahbub Djunaidi, yang dijuluki sebagai Pendekar Pena. “Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari Mahbub. Dari kalangan NU, Mahbub termasuk   tokoh   yang menyejarah,” ungkapnya, Jumat (17/2) malam. Ni’am mengatakan, ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa   Islam   Indonesia (PMII) itu menjadi sejarah berkat menulis. Ni’am pun menceritakan rekam jejak dan komitmen Mahbub sebagai seorang penulis. Dalam usia yang masih sangat muda, Mahbub menjadi pemimpin redaksi Harian Duta, yang hal itu membuat seo...

EKS TAPOL*

Image
oleh Mahbub Djunaidi TEKADNYA sudah bulat jadi pegawai Pemda. Siapa tahu nasib baik bisa jadi gubernur, atau Mendagri. Sumpah jabatan dihafalnya luar kepala. Urusan dengan rakyat diselesaikannya dengan baik sebelum waktu yang diharapkan. Uang pelicin ditolaknya dengan tersenyum. Tapi kerikil ada di mana-mana. Karena kawan-kawan sekerja mengkritiknya berbini anak tapol, ia berpikir keras. Walau ia tahu persis bininya tak tahu apa-apa, tak tahu apakah Karl Marx itu sebangsa manusia atau jenis mobil, maka diajaknya sang bini bicara baik-baik. Demi kelancaran tugas, sebaiknya kita bercerai saja. Serentak didengarnya Juklak No 15 Kopkam 1982 yang menjamin seseorang mantap ideologi dan setia kepada pemerintahan dan negara, walau dari keluarganya ada yang terlibat G-30-S PKI, bisa tetap berada di kantor. Tokoh kita ini pun lekas-lekas kirim orang untuk menemui bekas bininya dan minta rujuk, hidup normal sebagaimana biasanya. Sang bini karena sudah kawin lagi dengan seorang usa...