Posts

Ketika Waktu Merayu

kini hanya ada kau dan diriku dalam suatu jamuan purba para pertapa ya, lagi-lagi aku musti menyantap wajahku dalam dirimu aku tahu, aku takkan mampu mengelak rayuanmu yang manis dan bengis itu Bogor, Februari 2013

Tuhan, Itu Saja!

aku tidak akan minta yang lain-lain meski di kepalaku banyak kata oh tuhan, bahkan saat ini aku tak berselera menghirup surga tuhan, sudah lama tintaku kering kau tahu ‘kan? aku hanya mau tinta akan kucelupkan pena kuguratkan doa pada kertas lusuh yang kupunya itu saja Purwokerto, 21 September 2013

Tersedak

malam itu aku dibungkam gelap. rembulan dan gemintang rupanya telah lenyap terbawa arus darah yang meluap, tak menghiraukan dada. aku ikut hanyut dan tersedak hari kemarin. Purwokerto, 2013

Sia-sia

aku masih melantur, ketika bulan sudah tunduk pada fajar. aku melihat diriku komat-kamit, merapal segala mantra, dan tubuhku bergerak-gerak sendiri. aku melihat kesia-siaan. lidahku tampak lentur, namun ajianku takkan pernah sempurna jika kepalaku telah dicuri rencana-rencana. Purwokerto, 19 November 2013

Semoga Malaikat Tak Bersuara

malam itu aku mendapat undangan dari seorang lelaki. ketika hendak pergi, aku diikuti gerobak pengangkut kesialan. tentu malaikat tahu, gerobak itu milikku. dan hantu-hantu selalu saja cekikikan, teriakkan: hore! mampus kau! entah, lelaki itu hafal atau tidak, apa yang kubawa? boleh jadi ia mengira bukan sebagai gerobak, melainkan satu truk penuh kesialan. aku hanya menunduk kikuk dan berharap: semoga saja kacamatanya tidak dipakai untuk mengira-ngira. ; semoga malaikat tidak terlalu terbuka untuk berkata-kata. Purwokerto, 2013

Saat Inilah Engkau!

saat inilah engkau ketika kicau burung tak lagi ramah saat inilah engkau ketika warna bunga tak lagi cerah ketika bulan tak singgahi malam saat inilah engkau ketika satu bintang pun tak nampakkan saat inilah engkau hei rembulan, gemintang munculkan rupamu! siapa nyana, cahaya menusuk kalbu Purwokerto, 28 Maret 2013

Proses Merayu Tuhan

seperti biasa, tiga malam terakhir ini, sebelum mimpi-mimpi menarik tanganku, wangi telaga telah mengajakku bermain dadu. kasur, bantal, dan guling mendorongku untuk berjaga dalam permainan petak umpet. jendela kamar menyuruhku membeli buku tts di warung depan kampus, samping masjid. aku beranjak dan menuruti permintaan mereka. sekadar meyakinkan, aku bertanya, “baiklah, ini semua untuk esok ‘kan?”. mereka tersenyum lantas mengangguk. setelah habis keringat dan begitu yakin kemudian aku pergi mandi, berpakaian mewah dan memakai penutup kepala, biar sopan. tak lupa lidahku kuolesi dengan minyak wangi non-alkohol. malam ini penampilanku sangat rapi. sebelum berangkat ke malam jum’at, penghuni kamarku berpesan: kau harus merayu dan terus merayu agar semua bisa dimenangkan. lewat telepon rumah aku merayu tuhan, bicara dan bercerita dengan bahasa dan nada yang amat indah. aku berdansa bersama mantra dari sejarah. aku terus merayu dengan kalimat-kalimat dan gerak tubuh yang paling ...